Aku Betah di Malaysia Karena…..
Beberapa hari lalu habis liat konser Rabbani , lumayan dapet hiburan maklum gratis, sambil liatin anggota PPI jualan. Kampusku gak mungkinlah ngadain konser Ungu atau Peter Pan..hehehe bukan masalah duitnya..secara kami eh kampus ini kaya raya gemah ripah duitnye.. tapi kurang Islamilah, gak sesuai ama visi misi universiti…
. Ada hal yang menarik terkait konser tersebut. Entah kenapa ketika nonton sambil pangku Bita, aku seperti menyadari (akibat terinspirasi?) kalo hidup di tempatku sekarang ini adalah tempat tinggal yang paling ideal. Mengapa? Alasan pertama, jelas karena aku dapat lingkungan dalam kampus yang jiran2nya orang2 Indonesia sendiri. Jadi masalah bahasa dan kultur gak njeglek. Diantara tetangga itu, rata-rata sefikrah, jadi enak suasana seperti saudara sendiri. Yang agak rewel dan reseh juga ada, namanya juga Ibu-ibu, tapi gak separah di Indonesialah.
Alasan kedua apa yang kuperlukan mudah didapati di sini. Dengan kata lain, fasilitas dan infrastruktur sangat mendukung. Jaman sudah berubah, begitu juga diriku yang dulu suka hangout di mall, cafe, window shopping…cie… Sekarang masa itu udah lewat, jadi biar di sini kemana-mana cukup jauh, kalo mo ke kota 35 km, tapi gak masalah. Toh, aku gak perlu barang-barang branded yang di Kuantan mungkin agak susah diperoleh (harus ke KL atau Sgpore). Belanja RT seminggu sekali juga no problem. Jalan-jalan disini kondisinya oke, walo transportasi dalam kota jelek, dan punya kereta eh mobil itu hampir suatu kewajiban, but overall kondisi jalan dan highwaynya, oke punya. Pengalaman ke Perlis yang memakan waktu 14 jam jalan darat jadi ingin keliling semenanjung Malaysia bareng2 keluarga pandu kereta sendiri. Kayaknya asyik bangeett tuhh..
Alasan ketiga jelas disini suasana Islami sangat mendukung. Mata gak sesepet di Indonesia liat kemaksiatan sangat mudah ditemui dimana saja, dikepung dari berbagai arah walaupun itu di kota yang ngaku sebagai kota Santri. Aku juga heran, padahal muslim “cuma” 60% lho di Malaysia, bandingkan dengan Indonesia yang 80% dari 200 juta (CMIIW, gak update statistik terakhir, tapi mestinya gak jauh dari kisaran angka tersebut). Mungkin karena Malaysia etnisnya itu-itu doank? Mungkin karena pemerintahnya (sedikit) otoriter? Mungkin peran ulama lebih signifikan? Mungkin ada pengadilan syariah di Malaysia? wallahua’lam yang jelas aku tinggal di Kuantan, yang ke-Islam-annya masih kuat mewarnai kehidupan sehari-hari. Dibandingkan dengan KL, Johor, dan Penang, jauh lebih Islami di Kuantan, Pahang. Dimana-mana orang berjilbab, termasuk mereka yang berprofesi sebagai guard, polis, pegawai kerajaan, walo belum sempurna (lebih tepatnya bertudung, karena lengan dianggap bukan aurat deh oleh sebagian orang Melayu. Orang merokok juga gak banyak apalagi di kampusku, bisa kena kompaun. Yang agak menggelikan adalah di kampus, malam-malam duduk berduaan di kafe yang lebar luas dan bisa disaksikan orang banyak pun udah kena tegur ama para ustadz. Mengutip pandangan kaum liberalis sekular, moral kok ada polisinya… (buat mereka moral menjurus ke seks itu MYOB=mind your own business). Aku sampe nyletuk ke temanku orang indo, ustadz di Malaysia bisa pingsan kalo liat kelakuan mahasiswa-mahasiswa di Indonesia, boncengan, gandengan, apel, bobok bareng di tempat kos….hahaha eh naudzubillahi..Tapi aku bersyukur buat kebijakan pemerintah Malaysia menempatkan mahasiswa dalam satu kompleks asrama terjaga. Namanya pacaran, grepa-grepe, hamil di luar nikah pastilah ada, tapi bisa diminimalisirlah, akses dibatasi, gak kayak di Indo..duuuuuuuuuhhhh… speachless aku.
Alasan keempat adalah dukungan pemerintah Malaysia terhadap pendidikan. Pembangunan fasilitas (universitas, lab), program pensyarah wajib S3, dana riset adalah beberapa yang patut mendapat acuangan jempol. Walau, sumber daya manusia mereka masih pas-pasan, terpaksa buka rekrutmen lewat koran Kompas tahun lalu aku pernah liat, tapi mereka sudah punya comprehensive planning. Tidak ada negara maju yang tidak membangun dirinya lewat pendidikan. Malaysia mungkin belajar banyak masalah dari negara maju dan dari Indonesia. “Kebetulan” mereka punya uang yang banyak untuk itu (eh, Indonesia kalo diliat dari SDA dll, sepertinya bisa lebih kaya dari Malaysia deh). Jadi iri dan ngilerrr…… jadi gak pingin balik Indo…husss…hehehe
However, nonetheless, unfortunately alias sayang sekali, alasan-alasan diatas bisa dipatahkan dengan satu saja alasan lawannya, yaitu apalagi kalo tidak berjauhan ama suami..hiks.. Gak ada yang diajak rasan-rasan, diskusi, dan gosip..(makanya Iza bilang, Ummi kalo ada Abi cakap terus..hehehe). Belum keluarga utuh jika hidup masih jauh-jauhan. Semoga suamiku segera mendapat jawaban atas aplikasinya di sini, jadi kami cepat bisa berkumpul. Walo gaji yang diperoleh tidak sebesar dokter spesialis di Indonesia (sabetannya di Indo itu emang ruarr biasaa… moga2 suamiku bukan tipe makan uang obat..), tapi InsyaALLAH rejeki dari hasil berkumpul bersama keluarga pastinya juga ada dan barakah.
Ya ALLAH, luruskanlah niat kami dalam menjalani apa yang kami kerjakan, apa yang kami cita-citakan. Semoga semuanya berpulang untuk kebaikan di jalan-Mu, demi ummat, dalam rangka menegakkan dien-Mu..
Kuantan, April 2009

Leave a Reply