“DUUH..KASIHAN YA..”
“Duuh kasihan ya si A, harus pisah sementara dari suami, urus anak sendiri. Kasian ya si B, anaknya banyak gak punya pembantu. Wah, gak kebayang deh kalo aku di posisi C, kemana-mana kepanasan dan keujanan naik motor..”
Sepertinya kita tidak asing dengan kalimat diatas, atau mungkin kita sendiri justru pernah melontarkannnya? sepintas tidak ada yang salah dengan pernyataan diatas, bahkan itu seperti menunjukkan simpati kita pada seseorang. Dan bagi sebagian orang yang mendapat simpati juga senang, ada orang yang memperhatikan. Tetapi….hehehe ternyata nih… ada yang kurang pas setelah kita kembalikan kepada rujukan kita. Apalagi kalau bukan secara syariah. Cie..seperti lagaknya ustadzah saja. Waduh, sepertinya kok jauh banget dan mengada-ada ya? Ntar dulu… karena sebagai muslim kita mengakui jalan hidup kita adalah Islam, maka hal-hal yang tampaknya sepele seperti pernyataan diatas bisa kita kritisi juga. So, apanya ya?
Begini, sebelum kita bilang kasihan pada mereka yang kita rasa pantas mendapatkan kata-kata tersebut, kita analisis dulu sudah keadaan sebenarnya. Apakah orang-orang yang kita kasihani tersebut tergolong orang yang ingkar terhadap ALLAH dan Rasul-Nya? Apakah kehidupan mereka senantiasa diusahakan berada di jalan ALLAH atau tidak? ataukah sebenarnya mereka hanya kurang dari segi rejeki atau penampakan luar saja?
Rasa kasihan lebih pantas kita tujukan kepada orang-orang yang dalam hatinya masih terdapat banyak penyakit hati seperti iri, dengki (hasad), takabur, prasangka buruk yang saking dahsyatnya itu sangat jelas terlihat dalam pergaulan sehari-hari. Betapa banyak kita mendengar fitnah, ghibah, dan kesewenang-wenangan bertebaran di sekitar kita. Padahal para pelakunya banyak orang-orang yang makan 5 kali di restoran mewah juga sanggup, yang punya barang-barang branded, yang gak pernah kepanasan dan kehujanan. Dan sejak pergaulanku di dunia maya bertambah lebar, aku semakin kasihan pada mereka yang mengaku Islam tapi begitu bangga menghujat saudara-saudara muslimnya sendiri. Pokoke asal berita media massa bilang si A yang beragama Islam ini berperilaku (tampak) buruk, langsung dipercaya, trus keluar hujatan sana sini, mencoba membela berapi-api Islam tidak seperti itu, Islam adalah bla bla bla. Kenapa gak berusaha tabayyun (konfirmasi) agar pemberitaan berimbang? Aku justru kasihan melihat mereka yang bisa mengatakan itu saja masih mengingkari wajibnya jilbab, masih dekat dengan tradisi kental syirik, dan lain-lain. Berarti mereka hanya menginginkan Islam seperti keinginan mereka, kalau gak sesuai ya bye bye saja deh. Belum lagi beberapa yang lain juga terselip kebanggaan melakukan perbuatan maksiat (paling tidak, perbuatan itu masih dilakukan hingga sekarang). Naudzubillahi min dzaliik.
Rasa kasihan juga pas kita nisbatkan pada mereka yang merasa sudah berbuat banyak kebaikan di dunia namun sia-sia di hadapan ALLAH karena tidak beriman. Bukankah ini jelas dimuat dalam surat Al Kahfi 104-105 yang berbunyi:
104. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.
105. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia[#], maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.
[#] Maksudnya: tidak beriman kepada pembangkitan di hari kiamat, hisab dan pembalasan.
Ini tidak berarti kita tidak boleh simpati atau berempati pada keadaan orang-orang disekitar kita. Tapi lebih kepada mendudukkan secara proporsional rasa kasihan kita. Aku dulu juga sering kasihan melihat betapa terlihat penat beban rekan-rekan ummahat yang tidak punya khadimat sedangkan mereka juga ada amanah dakwah di luar. Atau kasihan lihat tetanggaku, ikhwah yang anaknya enam tapi belum punya rumah sendiri, dan kontrakannya sering kebanjiran padahal tetangga sekitarnya tidak. Tapi sekarang cara pandang kasihanku berbeda. Orang-orang yang tadinya kukasihani ini terlihat bahagia dalam hidupnya. Di kalangan tetangga, mereka tidak dzalim, baik melalui ucapan apalagi tangannya. Mereka yang sering kehujanan ini, begitu rapat hubungan dengan pasangan dan anak-anak mereka, damai keluarganya, dan yang jelas seperti tercerahkan hidup mereka walaupun secara materi bukan tergolong berlebih.
Di balik rasa kasihan terselip rasa syukur betapa banyak nikmat ALLAH yang diberikan kepada kita. Dan dari sekian banyak nikmat itu, menjadi muslim adalah nikmat terbesar karenanya aku sering berpikir, jika aku tidak terlahir sebagai muslim, akankah hidayah ALLAH sampai kepadaku?.. Itulah mengapa, aku selalu bilang kepada orang-orang yang mengasihaniku karena harus mengurus 2 anak sambil sekolah dan jauh dari suami. “Saya, gak kekurangan sandang, pangan, rumah (walo sewa). Anak-anak saya sehat, suami saya setia. Jadi, maturnuwun atas simpati sampeyan, namun memang lebih baik itu disampaikan kepada para Ibu-ibu korban bencana alam. Atau pada orang-orang yang belum mendapatkan hidayah dari ALLAH.”
Wallahu ‘alam bishshawab
Pahang, Desember 2008
