“Jika Kau Ragu-ragu, Tinggalkanlah” MENGIKUTI SUNNAH ATAU PEMBENARAN UNTUK MENYERAH?

•July 27, 2009 • Leave a Comment

Dari Abu Muhammad, Al Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib, cucu Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan kesayangan beliau radhiallahu ‘anhuma telah berkata : “Aku telah menghafal (sabda) dari Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Tinggalkanlah apa-apa yang meragukan kamu, bergantilah kepada apa yang tidak meragukan kamu “.
(HR. Tirmidzi dan berkata Tirmidzi : Ini adalah Hadits Hasan Shahih)

[Tirmidzi no. 2520, dan An-Nasa-i no. 5711]

Tulisan ini bukan bahasan hadits yang jelas di luar kapasitas saya, cuma tergelitik ingin menanggapi penafsiran beberapa orang mengenai katatinggalkanlah sedangkan dalam pandangan saya, mereka belum melakukan “prosedur” yang benar ketika memutuskan meninggalkantersebut. Dalam beberapa kasus (salah satu contohnya di bawah nanti), menurut pandangan saya hal ini lebih terkait pada keberanian mengambil resiko dibanding benar-benar ingin mengikuti sunnah.

Analog sangat sederhana misalkan kita hendak pergi ke luar kota karena kepentingan yang mendesak, kebetulan hari itu hujan deras, karena ragu-ragu akan keselamatan kita, maka langsung diputuskan tidak jadi berangkat. Dalam kasus ini, kita belum melaksanakan aturan baku sudah menyerah karena takut mengambil resiko. Padahal ALLAH menyuruh kita berusaha dulu menurut aturannya. Misalnya, jika pakai mobil, ya memastikan kondisi mobil sudah dalam keadaan oke, berhati-hati ketika di jalan raya. Kalau hal-hal tersebut belum ditempuh, kita sudah memutuskan tidak berangkat, apa bedanya ama putus asa ya?

Kasus nyata yang menurut saya cukup menggelikan menimpa salah satu kerabat suami ketika kunjungan silaturahim beberapa hari lalu. Pihak besan dari kerabat kami memutuskan untuk menyuruh anak mereka yang sudah menikah tidak perlu hamil karena khawatir anak yang dikandung kelak cacat. Alasannya, pihak wanita/istri sudah cukup lama mengkonsumsi obat-obatan. Menantu mereka diijinkan hamil jika berhenti mengkonsumi obat-obatan tersebut. Keputusan ini diambil dari hasil dengar-dengar omongan orang yang dianggap ahli dan acuan hadits diatas. Kenapa menggelikan? Ya karena dalam pandangan kami mereka mendasarkan keputusan padahal mereka belum sepenuhnya menempuh prosedur yang benar, baik secara syar’i maupun ilmiah.

Apakah keputusan mereka salah? Tentu saja kami tidak tahu, yang jelas buat kami, tidak ada maksud mengintervensi urusan rumah tangga seseorang, karena keputusan itu jelas merupakan hak mereka. Bukanlah suatu kejahatan besar jika seseorang memutuskan tidak punya anak. Hanya, sebagai orang yang berkecimpung di bidang ilmiah (makanya kami dimintain saran dengan pertimbangan kapasitas akademik), kami menyarankan pada kerabat dan besan untuk bertemu dan menempuh jalur yang benar sebelum mengambil keputusan. Jalur yang benar seperti apa? Kami menyarankan menempuh jalur ilmiah dan syar’i. Secara ilmiah, mereka sebaiknya menemui pakar baik di bidang obat-obatan dan kandungan. Kalau suami saya sebagai orang medis, sebaiknya tidak merujuk pendapat dokter spesialis yang tidak bekerja di RS pendidikan (i.e. bukan dosen), kalau perlu cari Profesor di bidang tersebut. Terlalu banyak di Indonesia orang bergelar yang mengomentari sesuatu yang bukan bidangnya (ini perlu tulisan sendiri sepertinya..hehehe). Pakar-pakar tersebut harus disepakati kedua belah pihak untuk dimintain pandangan mengenai resiko cacat pada anak. Kata suami sebagai orang medis, resiko punya anak cacat untuk obat-obatan tertentu lebih sedikit dibanding mati akibat kecelakaan lalu lintas :P

Yang kedua minta bantuan ulama untuk pertimbangan syar’i. Karena memutuskan tidak punya anak itu konsekuensi dari segi agama Islam sangat berat lho. Kecuali ybs berpandangan liberal, dimana setiap anak yang merasa hidupnya tersiksa akibat cacatnya berhak menuntut sang orangtua yang memilih melahirkan dia. Harapannya tentu ulama yang dirujuk bisa memaparkan untung rugi menurut hukum Islam ketika memilih tidak hamil karena takut cacat atau meneruskan kehamilan namun beresiko cukup besar punya anak cacat (misalkan benar ditemukan resiko besar, karena kata suami lagi, kebanyakan pengaruh obat-obatan belum jelas apakah cukup aman atau berbahaya).

Pada prinsipnya setiap perbuatan memang mengandung resiko, tidak mungkin seseorang yang berkecimpung di bidang ilmiah berani mengatakan 100% tidak ada resiko seorang anak lahir normal sehat walaupun dari orangtua yang keduanya dinyatakan sehat wal’afiat. Sama halnya dengan orang Islam yang diminta menjamin nyawa seorang manusia masih bersemayam di jasadnya besok pagi. Kalau sudah mengenakan helm standar dan mematuhi lalu lintas, eh akhirnya mati juga akibat kecelakaan, berarti itu sudah bicara takdir.

Kalimat terakhir kami sebelum berpamitan pulang, “Silakan ikuti jalur yang benar sebelum mengambil keputusan agar tidak menyesal di kemudian hari”. Secara pribadi berdasar pertimbangan medis dan syar’i, kami memilih tetap hamil dengan pengawasan ketat dari dokter dan menyiapkan mental. Justru resiko lebih besar menghadang jika pihak wanita menghentikan obat-obatan dibanding hamil dengan minum obat.

Kabar terakhir belum kami dapatkan hingga saat ini. Semoga ALLAH memberikan petunjuk buat mereka dan kami semua.

Wallahu’alam bishawab

Gresik, 24 Juli 2009

Penjelasan hadits Arbain diatas dapat dilihat di sini

Belajar Dari Permainan Politik Partai Hamas

•May 2, 2009 • Leave a Comment

Kamis, 16/04/2009 10:39 WIB:  sumber

Bila hendak berpartisipasi dalam sistem kafir Demokrasi ala Barat sudah sepatutnya setiap organisasi, jamaah, da’wah, harokah (gerakan) dan partai Islam di manapun mengambil pelajaran dari permainan politik ala Partai Hamas di Palestina. Sebab secara keseluruhan kita dapati Hamas tidak pernah terjebak oleh sistem non-Islam ini sebagaimana yang banyak dialami oleh berbagai partai Islam di negeri lainnya termasuk Indonesia. Kebanyakan partai Islam bila masuk ke dalam sistem demokrasi gagal menjadikan demokrasi sebatas kuda tunggangan untuk menggolkan tujuan Islam yang agung. Umumnya mereka bukan mewarnai melainkan terwarnai bila sudah ikut dalam permainan politik ala Barat kafir ini. Alih-alih berhasil menawarkan dan memperkenalkan kepada publik cara berpolitik Islam, malah merekalah yang semakin tahun semakin terkooptasi oleh sistem dan ideologi sekularis-nasionalis. Sedangkan Hamas sejak sebelum memutuskan terlibat dalam Pemilu di tahun 2006 sudah sejak awal memandang “sistem Demokrasi” sebagai sebuah sistem di luar Islam. Jadi jika mereka akhirnya berpartisipasi di dalamnya mereka memastikan diri untuk memperlakukannya sekedar sebuah kuda tunggangan untuk meraih sasaran antara perjuangan Islam.

Di dalam “sistem Demokrasi” terdapat unsur mafsadat (kerusakan) dan maslahat (manfaat). Hamas memastikan bila hendak berpartisipasi dalam Pemilu, maka partainya haruslah sudah cukup immune untuk tidak terkontaminasi oleh mafsadat “sistem Demokrasi” dan cukup yakin sanggup memetik maslahatnya. Oleh karenanya Hamas melakukan assessment yang akurat dan teliti mengenai tingkat dukungan masyarakat terhadap ide-ide Partai Hamas. Jika mereka menilai bahwa masyarakat telah cukup kuat menunjukkan dukungan kepada visi dan misi Hamas, maka barulah Hamas bersedia masuk dalam kancah permainan politik. Bila sebaliknya, maka Hamas akan memilih untuk mendahulukan kerja-kerja nyata berupa berbagai aktifitas da’wah, tarbiyyah, sosial-kebajikan dan jihad-perlawanan di tengah grass-root masyarakat Palestina. Dan mereka akan menunda keterlibatannya dalam permainan politik. (Baca: ”Mengapa Hamas Ikut Permainan Demokrasi?” Undangan ke Surga 15/4/09) Sebab itu, sejak hari pertama Hamas senantiasa menekankan kepada para kader dan pendukungnya bahwa aspek politik merupakan salah satu saja dari sekian banyak aktifitas seorang muslim. Sedangkan da’wah dan tarbiyyah itulah yang merupakan asas gerakan Islam yang hakiki. Dari aktifitas da’wah dan tarbiyyah kontinyu itulah akan dilahirkan para kader handal berikutnya. Tarbiyyah senantiasa dipandang sebagai awal dari segala-galanya walaupun tarbiyyah bukanlah segala-galanya. Dari tarbiyyah akan terbentuklah Syakhshiyyah Islamiyyah Mustaqiimah (pribadi muslim konsisten) yang memiliki aqidah yang kokoh dan fikrah Islamiyyah (pemahaman/ideologi Islam) yang komprehensif dan utuh. Bila di tengah masyarakat ditemukan muslim-mu’min yang ber-aqidah dan fikrah Islam mantap, maka mereka inilah yang akan menjadi pendukung/pencontreng loyal terhadap partai Islam manapun yang juga secara jujur memperlihatkan visi dan misi Islam secara mantap. Adapun partai Islam pada umumnya hanya mengandalkan apa-apa yang juga diandalkan oleh partai-partai sekular. Mereka akhirnya terlibat dalam berbagai upaya kampanya murahan –maaf- yang hanya mengandalkan para selebritis, pemasangan iklan di TV, pemajangan foto caleg di berbagai tiang listrik, pohon-pohon sampai melibatkan berbagai musisi serta dangdutan. hamas Sedangkan kegiatan utama berupa da’wah dan tarbiyyah Islamiyyah manhajiyyah (kaderisasi Islam sistemik) di tengah masyarakat tidak memperoleh perhatian yang semestinya. Kalaupun diupayakan kegiatan da’wah dan tarbiyyah, ujung-ujungnya lebih menekankan pada upaya promosi alias kampanye partai Islam terkait. Padahal yang dibutuhkan masyarakat bukanlah fanatisme kepada partai Islam, melainkan kesetiaan kepada nilai-nilai Islam yang abadi dan tidak mengenal batas kelompok dan organisasi buatan manusia. Hamas menyadari dan meyakini bahwa dukungan masyarakat Islam kepada mereka sangat ditentukan oleh seberapa konsistennya partai Hamas dalam menegakkan dan memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam segenap kiprahnya. Sehingga bila da’wah dan tarbiyyah Islamiyyah yang diselenggarakan oleh Hamas di tengah masyarakat telah mengakar, maka dengan sendirinya dukungan kepada Hamas akan menguat. Namun tentunya dengan syarat bahwa Hamas sendiri menunjukkan komitmen kepada ideologi dan syariat Islam yang katanya mereka perjuangkan itu.

Hal lain yang memastikan dukungan masyarakat ialah keterpaduan Hamas dalam mengelola berbagai program selain da’wah dan tarbiyyah Islamiyyah. Hamas terkenal sebagai sebuah gerakan Islam yang sangat aktif mengadakan kegiatan khairiyyah-ijtima’iyyah (sosial-kebajikan). Hamas sangat peduli dengan nasib rakyatnya seperti para janda dan yatim syuhada, para keluarga yang kepala keluarganya dipenjara Israel, para petani, kaum fakir-miskin, pegawai negeri dan lain sebagainya. Dan para petinggi dan aktifis Hamas sangat terkenal dengan kejujuran dan kebersihan jiwanya. Mereka adalah orang-orang amanah yang dikenal bebas dari korupsi dan penyalah-gunaan dana ummat. Dipadukan dengan kegiatan da’wah dan tarbiyyah, Hamas berhasil merajut ikatan ukhuwwah dan mahabbah (persaudaraan dan kasih sayang) masyarakat Palestina dengan menjadikan Al-Qur’an dan Masjid sebagai perekat utama hati ummat Islam. Hamas menjadikan masjid sebagai tempat dimana masyarakat memperoleh berbagai bantuan baik ekonomi maupun pendidikan.

Lalu melalui aktifitas al-jihad wal-muqowwamah (jihad dan perlawanan) dalam menghadapi penjajah Zionis Yahudi Israel, Hamas berhasil menjadikan masyarakat Palestina menjadi masyarakat yang hubbul-jihad wasysyahadah (cinta jihad dan mati syahid). Sehingga masyarakat di bawah pengarahan dan kepemimpinan Hamas menjadi masyarakat yang memiliki al-’izzah (kehormatan diri) dan terbebas dari penyakit al-wahan (cinta dunia dan takut mati). Sedangkan di negeri ini berbagai Partai islam justeru meninggalkan komitmen kepada ideologi dan Syariat Islam serta Jihad fi sabilillah. Hal ini mereka lakukan dengan maksud tidak ingin membuat kalangan non-muslim (baca: kafir) lari dan takut akan Islam. Padahal Hamas dengan segala kiprah ”militan”nya tidak pernah terasa menjadi momok yang menakutkan bagi sesama warga Palestina yang beragama Nasrani. Banyak testimony dari kaum Nasrani di Palestina yang menunjukkan penghormatan dan dukungan kepada Hamas. Mereka dapat melihat dengan jelas bahwa Hamas dengan segala ruhul-jihad-nya jauh lebih baik daripada para politisi korup dari partai Fatah yang sekularis-nasionalis itu.

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (QS Ali Imran 118-120)

Ya Allah, munculkanlah di tengah ummat ini suatu generasi yang Engkau cintai mereka dan merekapun mencintaiMu. Berlaku lemah-lembut kepada sesama orang beriman dan berlaku tegas/keras kepada kaum kafir. Mereka berjihad di jalanMu tanpa rasa takut akan celaan kalangan yang suka mencela. Amin ya Rabb.

————————————————————————————————- Tulisan yang sangat menarik dari Ustadz Ihsan Tanjung. Inti dari yang beliau tulis sesungguhnya merupakan bahasan yang sangat sering dijumpai, baik di forum, diskusi nyata, hingga obrolan warung kopi (termasuk omongan ngalor ngidulku dengan suami..hehehe). Semoga tulisan ini dibaca oleh mereka yang sekarang menjadi pembesar partai dan menjadi bahan renungan. Moga-moga bisa jadi perbaikan untuk semua, juga buat perbaikan kader-kadernya. Jadi ingat omongan suamiku, bahwa apa yang terjadi saat ini dapat diibaratkan: maksud hati merangkul seluruh golongan, termasuk yang ada nun jauh di sana, tapi tetangga terdekat justru semakin menjauh dari kita.. Kalo gak salah, tulisan tentang ini juga ada di eramuslim, ntar coba kucari. Apakah kita juga melakukan usaha sekeras direct selling dan kampanye ketika mengajak orang lain shalat, menjauhi syirik, dan maksiat??? Padahal jelas-jelas hal terakhir kewajibannya dan ancaman bagi yang mengabaikan sudah tidak ada perdebatan di dalamnya..? Wallahua’lam bishawab..

Aku Betah di Malaysia Karena…..

•April 5, 2009 • Leave a Comment

Beberapa hari lalu habis liat konser Rabbani , lumayan dapet hiburan maklum gratis, sambil liatin anggota PPI jualan. Kampusku gak mungkinlah ngadain konser Ungu atau Peter Pan..hehehe bukan masalah duitnya..secara kami eh kampus ini kaya raya gemah ripah duitnye.. tapi kurang Islamilah, gak sesuai ama visi misi universiti… :D . Ada hal yang menarik terkait konser tersebut. Entah kenapa ketika nonton sambil pangku Bita, aku seperti menyadari (akibat terinspirasi?) kalo hidup di tempatku sekarang ini adalah tempat tinggal yang paling ideal. Mengapa? Alasan pertama, jelas karena aku dapat lingkungan dalam kampus yang jiran2nya orang2 Indonesia sendiri. Jadi masalah bahasa dan kultur gak njeglek. Diantara tetangga itu, rata-rata sefikrah, jadi enak suasana seperti saudara sendiri. Yang agak rewel dan reseh juga ada, namanya juga Ibu-ibu, tapi gak separah di Indonesialah.

Alasan kedua apa yang kuperlukan mudah didapati di sini. Dengan kata lain, fasilitas dan infrastruktur sangat mendukung. Jaman sudah berubah, begitu juga diriku yang dulu suka hangout di mall, cafe, window shopping…cie… Sekarang masa itu udah lewat, jadi biar di sini kemana-mana cukup jauh, kalo mo ke kota 35 km, tapi gak masalah. Toh, aku gak perlu barang-barang branded yang di Kuantan mungkin agak susah diperoleh (harus ke KL atau Sgpore). Belanja RT seminggu sekali juga no problem. Jalan-jalan disini kondisinya oke, walo transportasi dalam kota jelek, dan punya kereta eh mobil itu hampir suatu kewajiban, but overall kondisi jalan dan highwaynya, oke punya. Pengalaman ke Perlis yang memakan waktu 14 jam jalan darat jadi ingin keliling semenanjung Malaysia bareng2 keluarga pandu kereta sendiri. Kayaknya asyik bangeett tuhh..

Alasan ketiga jelas disini suasana Islami sangat mendukung. Mata gak sesepet di Indonesia liat kemaksiatan sangat mudah ditemui dimana saja, dikepung dari berbagai arah walaupun itu di kota yang ngaku sebagai kota Santri. Aku juga heran, padahal muslim “cuma” 60% lho di Malaysia, bandingkan dengan Indonesia yang 80% dari 200 juta (CMIIW, gak update statistik terakhir, tapi mestinya gak jauh dari kisaran angka tersebut). Mungkin karena Malaysia etnisnya itu-itu doank? Mungkin karena pemerintahnya (sedikit) otoriter? Mungkin peran ulama lebih signifikan? Mungkin ada pengadilan syariah di Malaysia? wallahua’lam yang jelas aku tinggal di Kuantan, yang ke-Islam-annya masih kuat mewarnai kehidupan sehari-hari. Dibandingkan dengan KL, Johor, dan Penang, jauh lebih Islami di Kuantan, Pahang. Dimana-mana orang berjilbab, termasuk mereka yang berprofesi sebagai guard, polis, pegawai kerajaan, walo belum sempurna (lebih tepatnya bertudung, karena lengan dianggap bukan aurat deh oleh sebagian orang Melayu. Orang merokok juga gak banyak apalagi di kampusku, bisa kena kompaun. Yang agak menggelikan adalah di kampus, malam-malam duduk berduaan di kafe yang lebar luas dan bisa disaksikan orang banyak pun udah kena tegur ama para ustadz. Mengutip pandangan kaum liberalis sekular, moral kok ada polisinya… (buat mereka moral menjurus ke seks itu MYOB=mind your own business). Aku sampe nyletuk ke temanku orang indo, ustadz di Malaysia bisa pingsan kalo liat kelakuan mahasiswa-mahasiswa di Indonesia, boncengan, gandengan, apel, bobok bareng di tempat kos….hahaha eh naudzubillahi..Tapi aku bersyukur buat kebijakan pemerintah Malaysia menempatkan mahasiswa dalam satu kompleks asrama terjaga. Namanya pacaran, grepa-grepe, hamil di luar nikah pastilah ada, tapi bisa diminimalisirlah, akses dibatasi, gak kayak di Indo..duuuuuuuuuhhhh… speachless aku.

Alasan keempat adalah dukungan pemerintah Malaysia terhadap pendidikan. Pembangunan fasilitas (universitas, lab), program pensyarah wajib S3, dana riset adalah beberapa yang patut mendapat acuangan jempol. Walau, sumber daya manusia mereka masih pas-pasan, terpaksa buka rekrutmen lewat koran Kompas tahun lalu aku pernah liat, tapi mereka sudah punya comprehensive planning. Tidak ada negara maju yang tidak membangun dirinya lewat pendidikan. Malaysia mungkin belajar banyak masalah dari negara maju dan dari Indonesia. “Kebetulan” mereka punya uang yang banyak untuk itu (eh, Indonesia kalo diliat dari SDA dll, sepertinya bisa lebih kaya dari Malaysia deh). Jadi iri dan ngilerrr…… jadi gak pingin balik Indo…husss…hehehe

However, nonetheless, unfortunately alias sayang sekali, alasan-alasan diatas bisa dipatahkan dengan satu saja alasan lawannya, yaitu apalagi kalo tidak berjauhan ama suami..hiks.. Gak ada yang diajak rasan-rasan, diskusi, dan gosip..(makanya Iza bilang, Ummi kalo ada Abi cakap terus..hehehe). Belum keluarga utuh jika hidup masih jauh-jauhan. Semoga suamiku segera mendapat jawaban atas aplikasinya di sini, jadi kami cepat bisa berkumpul. Walo gaji yang diperoleh tidak sebesar dokter spesialis di Indonesia (sabetannya di Indo itu emang ruarr biasaa… moga2 suamiku bukan tipe makan uang obat..), tapi InsyaALLAH rejeki dari hasil berkumpul bersama keluarga pastinya juga ada dan barakah.

Ya ALLAH, luruskanlah niat kami dalam menjalani apa yang kami kerjakan, apa yang kami cita-citakan. Semoga semuanya berpulang untuk kebaikan di jalan-Mu, demi ummat, dalam rangka menegakkan dien-Mu..

Kuantan, April 2009

TANYA-JAWAB (1)

•February 18, 2009 • Leave a Comment

Pergaulan di forum membawa efek negatif maupun positif. Efek negatif jelas, kerjaan suka keteteran..fyuih… keasyikan posting, apalagi kalo “tertantang” mencari referensi untuk bahan diskusi/mengcounter pihak lawan. Belum tipikal saya pemikir/sensitif. Pernah sampe susah tidur mikirin  kok banyak ya musuh Islam itu? baik dari pihak kafir maupun penusuk dari belakang?..huahhhh. Alhamdulillah salah satu obatnya ya baca Al-Qur’an karena disana orang2 seperti itu sangat sering disebut, bahkan hampir tiap surat selalu ada peringatan dari ALLAH. Subhanallah…benar2 AL-Qur’an penyejuk jiwa. Kalau udah gitu..akhirnya saya tersenyum lagi. Wong jelas2 ada ayat yang berulang2 mengatakan:

  • Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka (QS Al-Baqarah: 119)
  • Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. (QS. al-Furqan: 56)
  • Kamu tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan (QS Faatir: 23)
  • dll

On the other hand, efek positifnya, beberapa mengajak saya berdiskusi serius yang bisa dikatakan sebagai lahan dakwah. Berikut adalah petikan tanya jawab antara seorang rekan non muslim dan saya (InsyaALLAH golongan dia yang dzimmi bukan harbi, karena kami bergaul di forum lebih dari setahun). Beberapa kata/kalimat sudah mengalami editing tanpa mengurang esensi makna..

Tanya:

hallo mom…

akhirnya baru selesai membaca berbagai sumber mengenai khalifah…

sekarang setidak nya ya dikit2 tau.

dari beberapa teman2 saya ada yang mendukung berdirinya kekhalifahan di dunia, seperti jaman nya Muhammad. namun karena itu di dunia nyata, dan saya harus menjaga beberapa hal sensitif demi tetap menjaga hubungan. maka saya tidak mempertanyakan landasan logika mereka.

nah klo menurut mom :

1. apakah memang benar, kekhalifahan adalah cita2 Islam, (bukan sebagaian umat muslim). tapi secara ajaran memang seharusnya iniliah sistem yg di anut.

2. apakah mom sendiri mengharapkan pemerintahaan RI di ubah menjadi kekhalifahan?

3. bila iya, mengapa? apakah memang bertentangan dengan prinsip dalam Islam sendiri.

sorry klo sudah bikin repot. ak orang na memang suka penasaran. hehehhe…

terimakasih atas perhatian nya.

Jawab

Gw jawab satu persatu ya..
1. Iya betul karena hukum Islam hanya bisa diterapkan secara menyeluruh jika ada daulah/kekhalifahan spt hukum potong tangan.
2. Iya. Tetapi, setelah masyarakat dipahamkan ttg Islam.
3. Iya, bertentangan. Dalam Islam, pemimpin ibarat nakhoda dalam sebuah kapal. Misal kalo ada rakyat kelaparan, dia yang akan mempertanggungjawabkan pertama kali kenapa rakyatnya tsb kelaparan. So, kalo terjadi bencana, pemimpin yang wajib menyelamatakna diri terakhir kali setelah rakyatnya selamat. Sedangkan di Indonesia, byk rakyat kelaparan, presiden masih tinggal di istana.

Dalam Islam kebenaran ada pada ALLAH (lewat Al-Qur’an). Dalam pemerintahan non Islam termasuk RI, kebenaran ditangan manusia itu sendiri

Regards

Mom

………… to be continued

“DUUH..KASIHAN YA..”

•December 9, 2008 • Leave a Comment

“Duuh kasihan ya si A, harus pisah sementara dari suami, urus anak sendiri. Kasian ya si B, anaknya banyak gak punya pembantu. Wah, gak kebayang deh kalo aku di posisi C, kemana-mana kepanasan dan keujanan naik motor..”

Sepertinya kita tidak asing dengan kalimat diatas, atau mungkin kita sendiri justru pernah melontarkannnya? sepintas tidak ada yang salah dengan pernyataan diatas, bahkan itu seperti menunjukkan simpati kita pada seseorang. Dan bagi sebagian orang yang mendapat simpati juga senang, ada orang yang memperhatikan. Tetapi….hehehe ternyata nih… ada yang kurang pas setelah kita kembalikan kepada rujukan kita. Apalagi kalau bukan secara syariah.  Cie..seperti lagaknya ustadzah saja. Waduh, sepertinya kok jauh banget dan mengada-ada ya? Ntar dulu… karena sebagai muslim kita mengakui jalan hidup kita adalah Islam, maka hal-hal yang tampaknya sepele seperti pernyataan diatas bisa kita kritisi juga.  So, apanya ya?

Begini, sebelum kita bilang kasihan pada mereka yang kita rasa pantas mendapatkan kata-kata tersebut, kita analisis dulu sudah keadaan sebenarnya. Apakah orang-orang yang kita kasihani tersebut tergolong orang yang ingkar terhadap ALLAH dan Rasul-Nya? Apakah kehidupan mereka senantiasa diusahakan berada di jalan ALLAH atau tidak? ataukah sebenarnya mereka hanya kurang dari segi rejeki atau penampakan luar saja?

Rasa kasihan lebih pantas kita tujukan kepada orang-orang yang dalam hatinya masih terdapat banyak penyakit hati seperti iri, dengki (hasad), takabur, prasangka buruk yang saking dahsyatnya itu sangat jelas terlihat dalam pergaulan sehari-hari. Betapa banyak kita mendengar fitnah, ghibah, dan kesewenang-wenangan bertebaran di sekitar kita. Padahal para pelakunya banyak orang-orang yang makan 5 kali di restoran mewah juga sanggup, yang punya barang-barang branded, yang gak pernah kepanasan dan kehujanan.  Dan sejak pergaulanku di dunia maya bertambah lebar, aku semakin kasihan pada mereka yang mengaku Islam tapi begitu bangga menghujat saudara-saudara muslimnya sendiri. Pokoke asal berita media massa bilang si A yang beragama Islam ini berperilaku (tampak) buruk, langsung dipercaya, trus keluar hujatan sana sini, mencoba membela berapi-api Islam tidak seperti itu, Islam adalah bla bla bla. Kenapa gak berusaha tabayyun (konfirmasi) agar pemberitaan berimbang? Aku justru kasihan melihat mereka yang bisa mengatakan itu saja masih mengingkari wajibnya jilbab, masih dekat dengan tradisi kental syirik, dan lain-lain. Berarti mereka hanya menginginkan Islam seperti keinginan mereka, kalau gak sesuai ya bye bye saja deh.   Belum lagi beberapa yang lain juga terselip kebanggaan melakukan perbuatan maksiat (paling tidak, perbuatan itu masih dilakukan hingga sekarang). Naudzubillahi min dzaliik.

Rasa kasihan juga pas kita nisbatkan pada mereka yang merasa sudah berbuat banyak kebaikan di dunia namun sia-sia di hadapan ALLAH karena tidak beriman. Bukankah ini jelas dimuat dalam surat Al Kahfi 104-105 yang berbunyi:

104. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.

105. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia[#], maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.

[#] Maksudnya: tidak beriman kepada pembangkitan di hari kiamat, hisab dan pembalasan.

Ini tidak berarti kita tidak boleh simpati atau berempati pada keadaan orang-orang disekitar kita. Tapi lebih kepada mendudukkan secara proporsional rasa kasihan kita. Aku dulu juga sering kasihan melihat betapa terlihat penat beban rekan-rekan ummahat yang tidak punya khadimat sedangkan mereka juga ada amanah dakwah di luar. Atau kasihan lihat tetanggaku, ikhwah yang anaknya enam tapi belum punya rumah sendiri, dan kontrakannya sering kebanjiran padahal tetangga sekitarnya tidak. Tapi sekarang cara pandang kasihanku berbeda. Orang-orang yang tadinya kukasihani ini terlihat bahagia dalam hidupnya. Di kalangan tetangga, mereka tidak dzalim, baik melalui ucapan apalagi tangannya. Mereka yang sering kehujanan ini, begitu rapat hubungan dengan pasangan dan anak-anak mereka, damai keluarganya, dan yang jelas seperti tercerahkan hidup mereka walaupun secara materi bukan tergolong berlebih.

Di balik rasa kasihan terselip rasa syukur betapa banyak nikmat ALLAH yang diberikan kepada kita. Dan dari sekian banyak nikmat itu, menjadi muslim adalah nikmat terbesar karenanya aku sering berpikir, jika aku tidak terlahir  sebagai muslim, akankah hidayah ALLAH sampai kepadaku?.. Itulah mengapa, aku selalu bilang kepada orang-orang yang mengasihaniku karena harus mengurus 2 anak sambil sekolah dan jauh dari suami. “Saya, gak kekurangan sandang, pangan, rumah (walo sewa). Anak-anak saya sehat, suami saya setia. Jadi, maturnuwun atas simpati sampeyan, namun memang lebih baik itu disampaikan kepada para Ibu-ibu korban bencana alam. Atau pada orang-orang yang belum mendapatkan hidayah dari ALLAH.”

Wallahu ‘alam bishshawab

Pahang, Desember 2008

BANTAHAN FITNAH TERHADAP KEBOLEHAN MENGGAULI BUDAK DALAM ISLAM

•December 8, 2008 • 4 Comments

Sebenarnya tulisan ini ditujukan untuk menjawab pertanyaan seorang member di forum yang senantiasa melontarkan kata-kata penghinaan terhadap Rasulullah SAW. Kalau forumnya semacam FFI gitu masih mending, karena isinya melulu menghina, tapi ini forum biasa, forum sekuler semacam kaskus gitu. Kelakuan member ini benarnya udah sering disorot, apalagi kalo ketemu aku, tapi entah mengapa ni orang tetap awet di forum..$%#@*&^ . Kalo para pembela Islam sedang berdebat dengan kaum liberal/sekuler pasal apapun yang berbau seks atau pornografi, dia selalu aja nyosor dengan kalimat seperti: “kalo kakek2 menggauli budak, padahal sudah py istri banyak, itu boleh gak dalam Islam?” atau seperti..” kenapa sih kakek2 yang ngembat istri anak angkatnya dan pedofil dijadikan idola?..” Masya ALLAH…aku gak tau lagi gimana nasibnya di akhirat kalo hidayah ALLAH gak masuk ke dia sampai ajalnya tiba.  Naudzubillahi min dzaliik..

Sambil nunggu keputusan moderator apakah aku diijinkan membawa bantahan ini ke forum (karena forum sekuler, tentu mengutip ayat-ayat dianggap gak pas..) ya kuposting disini dulu. Jazakallah untuk referensi dari Ustadz Ahmad Syarwat.. karena sebagian besar isi bantahan berasal dari beliau..

Here we go..

Dalam banyak ayatnya, Al-Quran memang membolehkan laki-laki menyetubuhi budaknya sendiri. Tetapi bukan budak orang lain.

Hal itu antara lain terdapat dalam ayat-ayat ini:

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. (QS Al-Mu”minun: 5-6)

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan yang yatim, maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.(QS An-Nisa: 3)

Dan wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu ni”mati di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya, sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS An-Nisa: 24)

Pembolehan itu kalau kita lihat di masa sekarang ini, sekilas memang terasa aneh dan tidak sesuai dengan rasio kita. Sebab kita hidup di abad 21, di mana perbudakan sudah menjadi barang yang asing. Kalau sampai kita membaca ayat Al-Quran yang seolah menerima konsep perbudakan, bahkan pemiliknya sampai boleh menyetubuhinya, tentu saja kita akan merasa sangat heran.

Namun pahamilah bahwa status budak itu amat hina. Budak dianggap sebagai makhluk setengah binatang dan setengah manusia. Maka tindakan menyetubuhi budak di masa itu jangan dianggap sebagai kenikmatan, justru sebaliknya, masyarakat di masa itu memandangnya sebagai sebuah tindakan yang hina dan kurang terhormat. Meski pun dihalalkan oleh Al-Quran.

Dan ketika Al-Quran menghalalkan laki-laki menyetubuhi budaknya, hal itu merupakan dispensasi atau keringanan belaka. Terutama buat mereka yang tidak mampu menikahi wanita terhormat dan mulia. Masyarakat sendiri tidaklah memandang bahwa menyetubuhi budak itu sebagai sebuah fasilitas penyaluran aktifitas seksual yang ”wah” di masa itu. Sebab memang sudah menjadi konvensi bahkan sebuah kelaziman.

Berbeda dengan zaman sekarang, kalau kita mendengar kebolehan menyetubuhi budak, seolah kita merasakan kehebohan tersendiri. Padahal para budak wanita itu bukan sekedar wanita murahan atau rendahan, bahkan dianggap sebagai separuh binatang. Anda bisa bayangkan, mana ada orang di masa itu mau menyetubuhi makhluk setengah manusia dan setengah binatang. Pastilah mereka lebih memilih untuk menikah dengan para wanita mulia, ketimbang menggauli budak. Kalau sampai ada yang menyetubuhinya, mereka pun merasa kurang terhormat.

Mari kita renungkan kembali keadaan sosiol kemasyarakatan di masa itu, yakni abad ketujuh masehi, tentu pandangan kita akan berbeda jauh.

Ketahuilah bahwa perbudakan itu sendiri bukan produk agama Islam. Perbudakan itu sudah ada jauh sebelum Al-Quran ini diturunkan. Di zaman Romawi dan Yunani Kuno, Persia kuno, China dan hampir seluruh peradaban manusia di masa lalu telah dikenal perbudakan. Dan semua itu terjadi berabad-abad sebelum Islam datang.

Sedangkan negeri Arab termasuk negeri yang belakangan mengenal perbudakan, sebagaimana belakangan pula dalam mengenal kebejadan moral. Minuman keras, pemerkosaan, makan uang riba, menyembah berhala, poligami tak terbatas dan budaya-budaya kotor lainnya bukan berasal dari negeri Arab, tetapi justru dari peradaban-peradaban besar manusia.

Ini penting kita pahami terlebih dahulu sebelum memvonis ajaran Islam. Negeri Arab adalah peradaban yang terakhir mengenal budaya-budaya kotor itu dari hasil persinggungan mereka dengan dunia luar. Karena orang Makkah itu biasa melakukan perjalanan dagang ke berbagai negeri. Justru dari peradaban-peradaban ‘maju’ lainnya itulah Arab mengenal kejahiliyahan. Perlu anda ketahui bahwa berhala-berhala yang ada di depan ka’bah yang berjumlah 360 itu adalah produk impor. Yang terbesar di antaranya adalah Hubal yang asli produk impor dari negeri Yaman.

Saat itu dunia mengenal perbudakan dan berlaku secara international. Yaitu tiap budak ada tarif dan harganya. Dan ini sangat berpengaruh pada mekanisme pasar dunia saat itu. Bisa dikatakan bahwa budak adalah salah satu komoditi suatu negara. Dia bisa diperjual-belikan dan dimiliki sebagai investasi layaknya ternak.

Dan hukum international saat itu membenarkan menyetubuhi budak milik sendiri. Bahkan semua tawanan perang secara otomatis menjadi budak pihak yang menang meski budak itu adalah keluarga kerajaan dan puteri-puteri pembesar. Ini semua terjadi bukan di Arab, tapi di peradaban-peradaban besar dunia saat itu. Arab hanya mendapat imbasnya saja.

Dalam kondisi dunia yang centang perenang itulah Islam diturunkan. Bukan hanya untuk dunia Arab, karena kejahiliyahan bukan milik bangsa Arab sendiri, justru ada di berbagai peradaban manusia saat itu.

Maka wajar bila Al-Quran banyak menyebutkan fenomena yang ada pada masa itu termasuk perbudakan. Bukan berarti Al-Quran mengakui perbudakan, tetapi merupakan petunjuk untuk melakukan kebijakan di tengah sistem kehidupan yang masih mengakui perbudakan saat itu.

Dan ingat, tidak ada jaminan bahwa fenomena perbudakan itu telah hilang untuk selamanya. Karena kejahiliyahan itu selalu berulang. Tidak ada jaminan bahwa kebobrokan umat terdahulu yang telah Allah hancurkan, di masa mendatang tidak kembali melakukannya. Termasuk perbudakan.

Kebetulan saja kita hari ini hidup di masa di mana perbudakan kelihatannya sudah tidak ada lagi. Tapi ingat, perbudakan baru saja berlalu beberapa ratus tahun yang lalu di Barat yang katanya modern. Jadi tidak ada ayat Al-Quran yang habis masa berlakunya.

Di sisi lain, perhatikan Al-Quran dan Sunnah, hampir semua hukum yang berkaitan dengan perbudakan itu berintikan pembebasan mereka. Semua pintu yang mengarah kepada terbukanya pintu pembebasan budak terbuka lebar. Dan sebaliknya, semua pintu menuju kepada perbudakannya tertutup rapat. Dengan demikian, secara sistematis, jumlah budak akan habis sesuai perjalanan waktu.

Sementara itu, perbudakan tidaklah semata-mata penindasan, tapi pahamilah bahwa di masa itu perbudakan adalah komoditi. Harga budak itu cukup mahal. Seseorang dalam sekejap akan jatuh miskin bila secara tiba-tiba perbudakan dihapuskan oleh Islam. Seorang tuan yang memiliki 100 budak, akan menjadi fakir miskin bila pada suatu hari perbudakan dihapuskan. Padahal dia mendapatkan budak itu dari membeli dan mengeluarkan uang yang cukup besar serta menabung bertahun-tahun. Bila hal itu terjadi, di mana sisi keadilan bagi orang yang memiliki budak, sedangkan dia ditakdirkan hidup di zaman di mana perbudakan terjadi dan menjadi komoditi.

Karena itu Islam tidak secara tiba-tiba menghapuskan perbudakan dalam satu hari. Islam melakukannya dengan proses kultural dan ’smooth‘. Banyak sekali hukuman dan kaffarah yang bentuknya membebaskan budak. Bahkan dalam syariah dikenal kredit pembebasan budak. Seorang budak boleh mencicil sejumlah uang untuk menebus dirinya sendiri yang tidak boleh dihalangi oleh tuannya.

Dengan cara yang sistematis dan proses yang alami, perbudakan hilang dari dunia Islam jauh beberapa ratus tahun sebelum orang barat meninggalkan perbudakan.

Kalau hari ini ada orang yang bilang Al-Qur’an mengakui perbudakan, maka dia perlu belajar sejarah lebih dalam sebelum bicara. Pendapatnya itu hanya akan meperkenalkan kepada dunia tentang keterbatasan ilmunya dan pada gilirannya akan menjadi bahan tertawaan saja.

Dengan sudah berakhirnya era perbudakan manusia oleh sebab turunnya agama Islam, maka otomatis urusan kebolehan menyetubuhi budak pun tidak perlu dibicarakan lagi. Sebab perbudakannya sendiri sudah dilenyapkan oleh syariah.

Mungkin ada yang bertanya, kalau perbudakan sudah lenyap, mengapa Al-Quran masih saja bicara tentang perbudakan?

Untuk menjawab itu kita perlu melihat lebih luas. Marilah kita membuat pengandaian sederhana. Seandainya suatu ketika nanti entah kapan, terjadi perang dunia yang melumat semua kehidupan dunia. Lalu pasca perang itu peradaban umat manusia hancur lebur, mungkin juga peradaban manusia kembali lagi menjadi peradaban purba, lantas umat manusia yang jahiliyah kembali jatuh ke jurang perbudakan manusia, maka agama Islam masih punya hukum-hukum suci yang mengatur masalah perbudakan.

Wallahu a”lam bishshawab. Sumber

Jadi, adalah kebohongan besar akibat ketidaktahuan mereka sajalah (yang sering dibungkus kebencian) jika saat ini masih ada perbudakan. Beberapa kali aku membaca bahwa penindasan dan perkosaan terhadap TKI itu disebabkan orang Arab atau Timteng sana mengganggap TKI itu budak. Itu jelas tidak dibenarkan dalam Islam. Mereka melakukan itu karena terpengaruh oleh budaya jahiliyah, dan lebih karena hawa nafsu maka mencari pembenaran saja. Islam sendiri sudah jelas berhasil menghapuskan sistem perbudakan yang notabene bukan berasal dari budaya Arab melainkan warisan jahiliyah budaya peradaban-peradaban besar sebelum Islam.

Semoga ALLAH berkenan membukakan pintu hati mereka akibat ketidaktahuan mereka. Karena sungguh besar azab ALLAH untuk mereka yang senantiasa memperolok-olok ayat-ayat dan Rasul-Nya sebagaimana bunyi ayat berikut:

al-kahfi-106

“Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok” (Al Kahfi 106)

PENYEBAB RUSAKNYA ILMU

•November 20, 2008 • Leave a Comment

Oleh Shohib Khoiri, Mahasiswa Universitas al-Azhar Kairo

Sudah empat belas abad yang lalu Rasulullah mewanti-wanti kita akan adanya ulama suu’ (buruk), mereka tidak mengajak kita kepada surga, akan tetapi justru mengajak kita kepada neraka. “Gelar” cendekiawan sering kali melenakan kita dan menipu kita, sehingga kita terkagum-kagum dan membenarkan segala perkataannya tanpa memperhatikan maksudnya. Saya teringat dengan nasehat kyai saya dahulu ketika masih di pesantren tentang bahaya penyakit ini, beliau berkata kurang lebih “Sebesar apa pun kecintaan kita pada seorang ulama atau orang-orang yang benar, maka janganlah hal tersebut melebihi cinta kita kepada kebenaran, karena orang benar tidak akan selamanya benar, sedangkan kebenaran selamanya akan benar”.. Mungkin ini sesuai dengan pepatah arab “undzur maa qaala wa laa tandzur man qaala”, lihatlah apa yang dikatakan tetapi janganlah engkau melihat siapa yang mengatakannya..

Kalaulah kepada orang-orang yang ‘alim dan pintar kita tidak boleh terkagum-kagum dan taqlid buta, maka apalah jadinya jika seandainya kita terkagum-kagum kepada al-Muta’aalim (bukan al-muta’allim) yaitu orang-orang memperlihatkan diri seakan-akan berilmu, padahal tidak. Ulama-ulama terdahulu sudah mewanti-wanti akan hadirnya golongan al-muta’aalim ini, mereka banyak berkata-kata tentang agama dan ijtihad padahal mereka belum sampai pada derajat mujtahid, merekalah yang merusak ilmu dan agama. Maka tidak heran jika Ibnu Abidil Barr al-Qurthuby berkata dalam Jami’nya dan Al-Ghazali dalam Ihyanya “Lau sakata man lam ya’lam saqatha al-khilaf” (jika orang-orang yang tidak tahu diam niscaya tidak akan terjadi perselisihan).

Islam adalah agama yang mengenal otoritas, Islam melarang kita untuk berbicara tentang dien semau mulut kita, Islam mengajarkan kepada kita untuk bertanya tentang agama kepada mereka yang tahu atau ahli dalam bidangnya, fas-aluu ahla adz-dzikr in kuntum laa ta’lamun. Lalu siapakan para ulama itu?.. Allah berfirman: Innama yakhsyaLLaha min ‘ibaadihi al-ulama.. (Sesunggu yang paling takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya adalah Ulama).. Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al-A’dzimnya mengutip perkataan Ibnu Abbas mengenai pengertian kata ulama dalam ayat ini, Beliau berkata: al’aalim bi ar-Rahman man lam yusyrik bihi syai-an wa ahalla halaalahu wa harrama haraamahu wa hafidza washiyyatahu wa aiqana annahu mulaaqiihi wa muhaasab bi’ilmihi (orang yang mengenal ar-Rahman dengan tidak mempersekutukannya, menghalalkan apa-apa yang dihalalkannya, mengharamkan apa yang diharamkan oleh-Nya, menjaga segala wasiat-Nya/perintah-Nya dan yakin bahwa ia akan bertemu dengan-Nya serta akan dimintai pertanggung jawaban atas ilmu yang dimilikinya). Dari perkataan beliau sudah sangat jelas bahwa ulama adalah mereka yang mempunyai karakter diatas, yang dapat menyatukan antara ilmu dan amal dan yakin bahwa ilmu mereka akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak, maka dari itu ulama bukanlah mereka yang menghalakan homoseksual/lesbian, menghalalkan pernikahan muslimah dengan non muslim, menginjak lembaran-lembaran al-Quran atau mengatakan tidak ada hukum Allah di muka bumi walaupun mereka bergelar “cendekiawan”. Benarlah apa yang dikatakan oleh Sufyan ats-Tsauriy: Ta’awwadzu billah min fitnatil ‘aabid al-jaahil wa min fitnati al-’aalim al-faajir, fa-inna fitnatahuma fitnatun likulli maftuun (Berlindunglah kepada Allah dari fitnah seorang ahli ibadah yang jahil dan dari fitnah seorang ‘alim yang gemar maksiat, karena fitnah keduanya ibarat sihir bagi orang-orang yang tersihir)

Menurut Syeikh Bakr Abu Zaid Rahimahullah, seorang ulama yang tidak diragukan lagi keilmuan dan kesholehannya, salah satu faktor penyebab rusaknya ilmu sehingga terjadi berbagai macam perselisihan adalah: An ya’taqida al-insan fii nafsihi aw yu’taqada bihi annahu min ahli al-’ilm wa al-ijthaad fii ad-diin – wa lam yablugh tilka ad-darajah – fa ya’mal ‘alaa dzaalika ( jika seseorang yakin atau diyakini bahwa ia termasuk ahli ilmu – padahal ia belum sampai pada derajat tersebut – kemudian ia beramal sesuai dengan ilmu yang ia yakini).. Mereka berkata-kata tentang agama berdasarkan akal mereka atau mungkin mereka belajar kepada orang-orang men”tuhan”kan akal mereka..

Inilah apa yang disabdakan oleh Nabi Shallallah ‘alaihi wa sallam : Laa yaqbidhuLLah intizaa’an yantazi’uhu min an-naas, wa laakin yaqbidhu al-’ilma biqabdhi al-’ulama, hataa idzaa lam yabqa ‘aalimun ittakhadza an-naas ru’asaa juhaalan fa su-iluu fa aftuu bi ghairi ‘ilm fa dhallu wa adhallu (Tidaklah Allah mencabut ilmu dengan cara melepaskannya dari manusia, akan tetapi Dia mencabutnya dengan cara mencabut ruh para ulama, sehingga jika tidak tersisa seorang ‘alim diambillah oleh manusia orang-orang yang bodoh sebagai panutan, mereka ditanya dengan berbagai macam pertanyaan dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan).

Penyakit inilah yang sering kali menyerang para “ulama”, yaitu malu untuk berkata tidak tahu atau ada keinginan untuk mengshowkan diri agar dapat disebut sebagai ‘alim atau cendekiawan. Mereka senang untuk ditanya padahal tidak tahu, tidak memperhatikan atau bahkan tidak segan-segan melanggar apa-apa yang sudah jelas dalam agama.. Mereka seperti apa yang dikatakan oleh Bisyr al-Hafy: Man ahabba an yus-al fa laisa bi ahlin an yus-al (Barang siapa yang senang untuk ditanya maka dia bukalah orang yang tepat untuk ditanya).

Perhatikanlah contoh mulia ketawadhuan dan kehati-hatian terhadap ilmu dari seorang ulama yang telah lama mendahului kita, yaitu al-Imam asy-Sya’biy, suatu ketika dikatakan kepada beliau :Kami malu atas sikapmu ketika engkau ditanya engkau mengatakan aku tidak tahu. Beliau berkata: Mengapa kita mesti malu, sedangkan malaikat saja tidak malu ketika ditanyakan kepada mereka perkara yang mereka tidak ketahui seraya berkata “Maha Suci Engkau tidaklah kami mengetahui kecuali apa-apa yang Engkau ajarkan kepada Kami”. (al-Baqarah: 32)..

Selain itu perhatikanlah contoh-contoh ketawadhuan dan kehati-hatian para ulama kita terdahulu:

Imam Malik: Ketika ditanya puluhan pertanyaan kepadanya beliau tidak menjawabnya kecuali hanya sedikit, akan tetapai hal tersebut tidak membuat harga diri beliau turun atau jatuh.

Imam Ibnu Hibban: Ketika beliau mengarang bukunya (ats-Tsiqat) beliau sering terganjal ketika menulis biografi para rijal hadits dan berkata: Aku tidak tahu siapa dia dan aku pun tidak mengetahui siapakah ayahnya.

Imam Adz-Dzahabiy: Berhenti ketika membandingkan keutamaan antara Ummul Mu’minin Khadijah dan Ummul Mu’minin ‘Aisya Radhiyallah ‘anhuma.

Kalaulah para ulama diatas begitu tawadhu dan hati-hati terhadap ilmu, maka siapalah kita yang baru belajar agama kemarin sore. Mungkinkah kita berkata-kata tentang agama semau akal kita dengan keilmuan kita yang serba pas-pasan. Apakah melalui mulut kita umat ini mendapat hidayah ataukah sebaliknya justru karena mulut kitalah umat ini menjadi sesat.. Na’udzubillah.

Jika sekiranya seekor keledai memakai sehelai sutra
Maka tetaplah orang-orang akan memanggilnya: wahai keledai#

Profil Penulis

Shohib Khoiri , alumni Pondok Pesantren Modern Gontor, sekarang sebagai Mahasiswa Fakultas Ushuluddin-Tafsir Universitas al-Azhar Kair

sumber: http://www.eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/penyebab-rusaknya-ilmu.htm


KRITERIA KEEMPAT MASYARAKAT JAHILIYAH

•November 8, 2008 • Leave a Comment

Muhammad Quthb hafidzhohullah, adik kandung asy-Syahid Sayyid Quthb rahimahullah, menyebut dunia modern sebagai jahiliyah abad 20 atau jahiliyah modern. Menurutnya “jahiliyah” bukan hanya keadaan di jazirah Arab pada masa awal diutusnya Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Jahiliyah merupakan sifat yang mungkin berlaku bagi masyarakat manapun di zaman kapanpun bila memenuhi setidaknya empat kriteria.

Pada tulisan terdahulu kita telah membahas kriteria pertama yaitu tidak adanya iman yang sesungguhnya kepada Allah ta’aala, yakni sikap semestinya yang membuktikan kesatuan antara akidah dan syariat tanpa pemisahan.

Ciri kedua ialah tidak adanya pelaksanaan hukum menurut apa yang telah diturunkan Allah ta’aala, yang berarti menuruti “hawa nafsu” manusia. Padahal jelas di dalam Al-Qur’an Allah ta’aala perintahkan manusia untuk menegakkan hukum berdasarkan apa yang telah diwahyukanNya. Bila hal ini dilanggar berarti masyarakat tersebut telah menegakkan hukum berdasarkan hawa nafsu manusia bukan mengikuti arahan petunjuk ilahi. Dan sikap seperti itu menjadi indikasi bahwa mereka cenderung memilih hukum jahiliyah daripada hukum Allah ta’aala. Maka masyarakat semacam itu pantas dijuluki sebagai masyarakat jahiliyah.

Ciri ketiga ialah bilamana hadir di dalamnya berbagai thaghut yang membujuk manusia supaya tidak beribadah dan tidak taat kepada Allah ta’aala serta menolak syariat-Nya. Lalu, mengalihkan peribadatannya kepada thaghut dan hukum-hukum yang dibuat menurut nafsunya. Perkara ini sudah kita singgung dalam tulisan terdahulu berjudul ”Wali Allah Versus Wali Thaghut”.

Al-QuranAdapun ciri keempat suatu masyarakat jahiliyah ialah hadirnya sikap menjauh dari agama Allah ta’aala, sehingga penyelewengan menjurus kepada nafsu syahwat. Masyarakat itu tidak melarang dan tidak merasa berkepentingan untuk melawan perbuatan asusila. Sehingga dalam masyarakat seperti itu segenap upaya untuk menjunjung tinggi akhlak mulia menjadi sia-sia bahkan memperoleh penentangan hebat dari kebanyakan manusia.

Sikap menjauh dari agama Allah ta’aala menyebabkan manusia selalu menjadikan pertimbangan syar’i sebagai pertimbangan terakhir bukan pertimbangan pertama dan utama. Hampir semua kebijakan mempertimbangkan hal-hal selain agama Allah ta’aala. Misalnya, yang lebih diutamakan adalah pertimbangan ekonomi atau stabilitas nasional atau penilaian dunia internasional.

———————————————————————————————————

Ini paling sering kutemui dalam kehidupan sehari-hari, paling tidak aku melihat dari keluarga pihak Ayah dan Ibuku. Mereka yang mengaku Islam dan sudah menjalankan rukun Islam komplit tetapi tidak menggunakan syar’i sebagai landasan pengambilan keputusan dan perbuatan. Contoh gampang adalah berkembangnya bid’ah atas nama melestarikan budaya (adat) yang sering sudah menjurus syirik. Kemudian ketika mereka ditimpa musibah, maka tempat lari mereka bukan sholat tahajud, shaum sunnah, dzikir, dan segala hal yang dituntunkan Rasulullah SAW. Banyak yang lari ke orang pintar, atau bukannya instropeksi tetapi malah mencari-cari kesalahan orang lain sebagai sebab munculnya musibah. Contoh lain yang lagi sangat membuat kami bersedih dan rasanya mau marah adalah ada kaum kerabat yang menyepelekan hal yang syar’i demi mengejar yang mending sunnah, malah sering jatuh ke haram. Jelasnya kasusnya seperti ini. Anak-anak yang sudah dewasa tidak kebingungan mencari cara (atau bahkan sekedar mendoakan) bagaimana agar orangtuanya yang sudah uzur tidak meninggalkan shalat. Karena selama hidupnya sang orangtua seperti tidak beranggapan shalat itu wajib. Padahal dalam Islam, shalat adalah ibadah yang tidak bisa ditukar yang harus dikerjakan hingga ajal menjelang. Justru yang mereka ributkan adalah kuburan sang orangtua itu nanti seperti apa, warisannya sudah ditukar nama belum, kira-kira sang anak bisa minta apa lagi sama orangtuanya mumpung masih hidup (kebetulan ortu ini kaya)… Astaghfirullahaladziim.

———————————————————————————————————

Inilah yang terjadi pada kasus kaum wanita yang berprofesi sebagai pelacur. Pemerintah dan masyarakat membiarkan bahkan mendukung eksistensi profesi tersebut dengan alasan hak berpenghasilan. Soal bahwa menurut pandangan agama Allah ta’aala hal itu haram tidak menjadi persoalan. Sampai-sampai nama profesi tersebut “diperhalus” menjadi Pekerja Seks Komersial untuk mendongkrak kehormatan para pelakunya.

Contoh lainnya ialah dibiarkannya pabrik rokok dan bisnis rokok karena cukai menjadi penambah pendapatan negara yang begitu fantastis. Soal bahwa ia merupakan perbuatan haram dari perspektif agama Allah ta’aala, maka hal itu tidak dipersoalkan. Apalagi survey membuktikan bahwa sebagian kalangan para pemuka agama Islam (baca: para kyai) masih banyak yang merokok dan berfatwa bahwa rokok hukumnya “cuma” makruh, bukan haram.

Ini pula yang menjadi argumentasi mengapa aliran-aliran sesat tetap dibiarkan beraktifitas menyebarluaskan kesesatannya di tengah masyarakat. Ahmadiyah, misalnya, tidak kunjung diberangus karena berlindung di balik alasan hak asasi manusia atau menjaga stabilitas nasional atau menjaga image di mata dunia internasional. Bahwa dari sudut pandang agama Allah ta’aala ajarannya sudah jelas-jelas menentang Allah ta’aala dan RasulNya, maka hal itu tidak pernah menjadi pertimbangan yang patut diperhatikan.

Berbagai tayangan televisi yang masuk kategori pornografi atau pornoaksi tidak kunjung berkurang apalagi berakhir karena –kata mereka- memiliki rating yang tinggi, mendatangkan banyak iklan dan profit bagi para pemiliki stasiun TV. Soal bahwa dari segi agama Allah ta’aala tayangan-tayangan seperti itu termasuk haram, maka hal ini tidak pernah menjadi perhatian para pengusaha TV. Prinsip mereka “Anjing menggonggong, kafilah berlalu.” Dengan liciknya mereka bilang: “Kami hanya melayani aspirasi masyarakat luas. Kebanyakan pemirsa TV memang menghendaki hadirnya tayangan-tayangan seperti itu.”

Saudaraku, memang perbedaan pokok masyarakat jahiliyah dengan masyarakat Islam atau masyarakat orang-orang beriman ialah pada landasan berdirinya masyarakat tersebut. Masyarakat jahiliyah bertolak dari hawa nafsu dan selera masyarakat dalam mengembangkan kehidupan dan peradaban. Sedangkan masyarakat orang-orang beriman bertolak dari ketundukan dan penghambaan diri kepada Allah ta’aala.

Kedua-duanya sama-sama mengaku ingin menegakkan kebebasan. Yang satu kebebasan dalam pengertian bebas untuk bermaksiat kapan saja dan bagaimana saja sesuka hati. Sedangkan yang satu lagi kebebasan untuk taat dan patuh hanya kepada Allah ta’aala, pemilik otoritas tertinggi di alam raya. Jahiliyah tidak pernah menyebut perbuatan manusia sebagai maksiat, melainkan kreatifitas. Sedangkan Islam tidak membenarkan adanya kebebasan untuk bermaksiat, yang dibenarkan hanyalah kebebasan untuk taat. Apapun boleh dikerjakan dan dikembangkan di dalam Islam asalkan masih dalam koridor taat kepada Allah ta’aala.

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

”Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS Al-Jatsiyah ayat 23-24)

Masyarakat jahiliyah menjadikan segala pertimbangan hidupnya berdasarkan kepentingan yang dibatasi oleh kehidupan dunia belaka. Mereka tidak pernah dan tidak tertarik menjadikan pertimbangan agama Allah ta’aala sebagai pertimbangan pertama dan utama karena mereka tidak memiliki visi akhirat. Mereka hanya mengerti perkara dunia semata. Mereka meragukan bahkan mengingkari kehidupan akhirat. Mereka telah tertipu oleh dunia. Sujud

Sedangkan masyarakat Islam sangat peduli dengan agama Allah ta’aala. Segala sesuatu dinilai berdasarkan agama Allah ta’aala. Mengapa demikian? Karena mereka sangat bersyukur akan ni’mat Iman dan Islam yang Allah ta’aala limpahkan kepada mereka. Sebagai wujud rasa syukur itu mereka mengembangkan rasa cinta kepada keimanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan keimanan. Sambil sebaliknya, mereka kembangkan rasa benci terhadap kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan.

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

”…tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS Al-Hujurat ayat 7)

Benarlah Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam dengan sabdanya sebagai berikut:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حُجِبَتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ

“Neraka dilapisi oleh hal-hal yang menyenangkan (syahwat) manusia, sedangkan surga dilapisi hal-hal yang tidak disukai manusia.” (HR Bukhary 6006)

Sumber: eramuslim

KRITERIA KEDUA MASYARAKAT JAHILIYAH (dengan komen tambahan)

•October 26, 2008 • Leave a Comment

Muhammad Quthb hafidzhohullah, adik kandung asy-Syahid Sayyid Quthb rahimahullah, menyebut dunia modern sebagai jahiliyah abad 20 atau jahiliyah modern. Menurutnya “jahiliyah” bukan hanya keadaan di jazirah Arab pada masa awal diutusnya Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Jahiliyah merupakan sifat yang mungkin berlaku bagi masyarakat manapun di zaman kapanpun bila memenuhi setidaknya empat kriteria.

Pada tulisan terdahulu kita telah membahas kriteria pertama yaitu tidak adanya iman yang sesungguhnya kepada Allah ta’aala. Yaitu, sikap yang membuktikan kesatuan antara akidah dan syariat tanpa pemisahan.

Ciri kedua suatu masyarakat jahiliyah adalah tidak adanya pelaksanaan hukum menurut apa yang telah diturunkan Allah ta’aala, yang berarti menuruti “hawa nafsu” manusia. Padahal jelas di dalam Al-Qur’an Allah ta’aala perintahkan manusia untuk menegakkan hukum berdasarkan apa yang telah diwahyukanNya. Bila hal ini dilanggar berarti masyarakat tersebut telah menegakkan hukum berdasarkan hawa nafsu manusia bukan mengikuti arahan petunjuk ilahi. Dan sikap seperti itu menjadi indikasi bahwa mereka cenderung memilih hukum jahiliyah daripada hukum Allah ta’aala. Maka masyarakat semacam itu pantas dijuluki sebagai masyarakat jahiliyah.

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

”…dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah ta’aala, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al-Maidah ayat 49-50)

Berdasarkan ayat di atas berarti berbagai negeri kaum muslimin di berbagai penjuru dunia dewasa ini sebagian besar termasuk ke dalam masyarakat jahiliyah. Sebab mereka tidak menjadikan wahyu Allah ta’aala semata sebagai sumber dari segenap sumber hukum. Mereka rela mengekor kepada logika berhukum masyarakat Barat non-Islam alias kafir. Bahkan negeri seperti Kerajaan Arab Saudi sekalipun masih patut dipertanyakan konsistensinya dalam menjadikan Allah ta’aala sebagai fihak yang berdaulat penuh. Sebab andaikan mereka sejujurnya menegakkan hukum Allah ta’aala, niscaya mereka tidak akan membiarkan berlarut-larutnya penindasan dan penjajahan berlangsung atas saudara-saudara muslim di bumi suci Palestina yang merupakan salah satu jiran Kerajaan Arab Saudi.

……………………..

Itulah mengapa sampai sekarang aku gak habis pikir mengapa mereka orang-orang Timur Tengah bisa hidup sangat bermewah-mewah luar biasa sedangkan saudara-saudara mereka banyak yang kekurangan entah di Palestina, Afrika, bahkan Indonesia. Aku mencoba berhusnudzan mereka sebenarnya telah menyumbangkan banyak harta hanya ya masalahnya emang kompleks sih, termasuk bantuan suka tidak sampai ke Palestina misalnya akibat blokade dan sebagainya. Tapi tetep saja masih gak habis pikir apalagi didukung fakta dan cerita temen kalo gaya hidup rata2 wanita Timur Tengah itu luar biasa. Mereka memang pakai niqab tapi jangan salah dengan pakaian didalamnya, perhiasan, aksesoris, termasuk makanan dan pesta-pesta… luar biasa…life style-nya. Semoga kelak jika aku dimudahkan rejeki diatas saudara-saudaraku yang lain, aku tidak berlebih-lebihan dalam hidup..amiin..

…………….

Al-Qur’an bahkan memberi label yang sangat mengerikan kepada fihak-fihak pemegang otoritas hukum dalam suatu masyarakat bilamana mereka tidak mau berhukum dengan hukum Allah ta’aala. Allah ta’aala menyebut para pemimpin –baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif- masyarakat tersebut sebagai orang-orang kafir, zalim dan fasik..!

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

”Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS Al-Maidah ayat 44)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

”Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (QS Al-Maidah ayat 45)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

”Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS Al-Maidah ayat 47)

Maka saudaraku, sungguh perjuangan menegakkan Islam masih memerlukan pengerahan energi dan kesungguhan yang luar biasa. Masih banyak ummat Islam yang menyebut hukum jahiliyah sebagai hukum positif, padahal jelas negatif-nya di mata Allah ta’aala. Yang kita sayangkan bahwa sebagian orang yang mengaku sebagai aktivis pergerakan Islam merasa yakin benar bahwa jika mereka terpilih menjadi pemimpin dalam sebuah masyarakat jahiliyah berarti kemenangan sudah di depan mata...! Padahal ancaman Allah ta’aala begitu nyata. Allah ta’aala memandang mereka yang memiliki otoritas hukum dalam sistem yang tidak berhukum berdasarkan wahyu Allah ta’aala adalah manusia-manusia kafir, zalim dan fasik. Na’udzubillahi min dzaalika…!

…………………

Namanya juga ikhtiar, Ustadz. Setiap orang memilih cara perjuangannya sendiri-sendiri menurut pemahaman dia. Sesama muslim wajiblah kita mengingatkan jika memang saudara kita khilaf dan bertabayyun jika menemui berita yang simpang siur… Itu memang idealnya sih. Wallahu ‘alam bishawab

……………..

sumber: eramuslim:

JAHILIYAH

•September 20, 2008 • Leave a Comment

Seringkali ketika berdiskusi di forum (i.e. forum sekuler), aku merasa sedih, nelangsa dan bingung melihat betapa gigihnya perlawanan kaum sekuler entah yang memang tidak suka dengan Islam atau sebatas tidak peduli. Dibungkus dengan kata-kata yang indah, harapan dan impian universal, pandangan-pandangan mereka bisa membuat kita terlena. Terlebih untuk mereka yang belum kuat akidahnya dan yang masih mencari jati diri. Sebagian besar yang maen di forum adalah anak-anak muda, yang lebih memilih mencari ilmu lewat internet dan tentunya banyak mendasarkan pada apa yang tampaknya masuk di akal/logika mereka. Padahal seringkali logika manusia yang terbatas ini masih sering menuruti nafsu akibat ketidaktauan tentang ilmu. Berapa kali aku bilang, belajarlah mengaji dengan benar pada orang yang tepat. Tapi itu bukan hal yang mudah membujuk mereka karena forum menawarkan hal yang lebih menyenangkan padahal sesungguhnya di forum itu pulalah pembelokan akidah demikian kuatnya. Mungkin aku memang tidak pandai berdiskusi dan berdebat, apapun yang dikatakan selalu bisa dibantah walau menurutku itu sudah jelas ibarat seterang matahari di siang hari yang terik. Beberapa kali aku pingin menangis melihat betapa mengerikannya paham yang mereka bawa walau itu cuma dunia maya. Inilah yang sesungguhnya disebut dengan ghazwul fikri, perang pemikiran.

Aku jadi ingat artikel yang kubaca baru saja di eramuslim. Artikel ini semakin meneguhkan diriku bahwa sesungguhnya kita telah masuk jaman jahiliyah. Banyak muslim di muka bumi, tapi seperti kata Baginda Rasulullah SAW ibarat buih-buih di lautan..:( Banyak yang mengaku muslim, tetapi terkesan takut “mengimani” seluruh hukum Islam dengan berbagai dalih. Jangan memahami ayat Al-Qur’an dengan letter lex dan meragukan kemampuan para mufasirin serta lebih mengutamakan akal dengan alasan itulah kelebihan manusia dibanding hewan adalah alasan yang paling sering dikemukakan. Sekiranya ada hukum atau masalah yang kurang masuk akal atau sepintas terlihat kejam, gak adil, maka diubah-ubah maknanya atau dicari-cari celahnya agar terlihat humanis, moderat tanpa mau memandang hukum atau hal-hal tersebut dalam kacamata Islam yang menyeluruh. Aku sangat paham manusia adalah letaknya salah termasuk para ulama tapi dalam masalah agama, mestinya menurut hitungan probabilitas sains sekalipun kemungkinan kita sebagai manusia yang paham bahasa Arab saja entah tentu jauhhhhh lebih besar. Padahal jika dengan jernih mau belajar lebih jauh tentang bagaimana Al-Qur’an diturunkan, hadits diriwiyatkan, para biografi ulama, kisah para sahabat… duuhh… kok tega ya para muslim itu masih mengikuti pandangan kaum sekuler, istilahnya punya taghut-taghut lain…:(

Empat Kriteria Masyarakat Jahiliyah (1)

oleh Ihsan Tandjung Rabu, 17 Sep 2008 Masyarakat jahiliyah tidak mau mengembangkan iman yang sesungguhnya kepada Allah ta’aala sebab mereka tidak siap menanggung resikonya

Muhammad Quthb, adik kandung asy-Syahid Sayyid Quthb rahimahullah, menyebut dunia modern sebagai jahiliyah abad 20 atau jahiliyah modern. Menurutnya “jahiliyah” bukan hanya keadaan di jazirah Arab pada masa awal Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam diutus. Jahiliyah merupakan sifat yang mungkin berlaku bagi masyarakat manapun di zaman kapanpun bila memenuhi setidaknya empat kriteria.

Pertama, tidak adanya iman yang sesungguhnya kepada Allah ta’aala. Yaitu, sikap yang membuktikan kesatuan antara akidah dan syariat tanpa pemisahan.

Kedua, tidak adanya pelaksanaan hukum menurut apa yang telah diturunkan Allah ta’aala, yang berarti menuruti “hawa nafsu” manusia.

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

”…dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al-Maidah ayat 49-50)

Ketiga, hadirnya berbagai thaghut di muka bumi yang membujuk manusia supaya tidak beribadah dan tidak taat kepada Allah ta’aala serta menolak syariat-Nya. Lalu, mengalihkan peribadatannya kepada thaghut dan hukum-hukum yang dibuat menurut nafsunya.

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

”Allah ta’aala Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-Baqarah 257)

Keempat, hadirnya sikap menjauh dari agama Allah ta’aala, sehingga penyelewengan menjurus kepada nafsu syahwat. Masyarakat itu tidak melarang dan tidak merasa berkepentingan untuk melawan perbuatan asusila.

Itulah beberapa ciri menonjol setiap kejahiliyahan yang ada di muka bumi sepanjang sejarah. Semuanya muncul dari cirinya yang paling pokok, yaitu penyelewengan dari kewajiban berbakti dan menyembah Allah ta’aala sebagaimana mestinya.

Ciri pertama suatu masyarakat jahiliyah adalah tidak adanya iman yang sesungguhnya kepada Allah ta’aala. Sebagian masyarakat bisa jadi mengaku beriman, mengaku muslim. Namun dalam hal mengimani Allah ta’aala, mereka mengimani Allah ta’aala menurut selera, bukan sebagaimana Allah ta’aala memperkenalkan dirinya di dalam Kitab-Nya. Mereka tidak tunduk kepada Allah ta’aala, malah mereka yang mendefinisikan Allah ta’aala sesuai hawa nafsu.

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ

”Dan mereka tidak menghormati Allah ta’aala dengan penghormatan yang semestinya.” (QS Al-An’aam ayat 91)

Dalam suatu masyarakat jahiliyah mereka senang mengakui Allah ta’aala sebagai Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha Pengampun. Tapi mereka tidak suka mendengar Allah ta’aala sebagai Yang Maha Keras siksaNya, atau Maha Memaksa, Maha Perkasa serta Maha Sombong. Padahal semua ini merupakan atribut dari Allah ta’aala yang jelas tercantum di dalam Kitab-Nya.

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

”Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah ta’aala amat keras siksaan-Nya.” (QS A-Anfaal 25)

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ
الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dia-lah Allah ta’aala Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah ta’aala Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah ta’aala dari apa yang mereka persekutukan.” (QS Al-Hasyr ayat 22-23)

Mengapa sebuah masyarakat jahiliyah bersikap pilih-kasih terhadap berbagai atribut Allah ta’aala? Karena mereka banyak tenggelam dalam perbuatan dosa dan maksiat, sehingga mereka sangat perlu dengan tuhan yang menyayangi dan mengampuni. Mereka suka dengan tuhan yang menjanjikan surga yang penuh kenikmatan. Namun mereka berusaha untuk tutup mata akan tuhan yang maha kuasa, maha perkasa dan maha keras siksaannya. Mereka menutup mata akan hadirnya neraka dengan segenap siksaannya yang mengerikan.

Sebab mereka ingin tetap bermaksiat namun tidak ingin menerima konsekuensi atau hukuman akibat maksiat tersebut. Maka mereka mengimani sebagian saja dari ketuhanan Allah ta’aala. Artinya, mereka tidak mau mengembangkan iman yang sesungguhnya kepada Allah ta’aala sebab mereka tidak siap menanggung resikonya. Mereka beriman dengan cara berangan-angan. Mereka beriman dalam mimpi belaka. Mereka sangat lemah dalam beriman. Sungguh benarlah Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam dengan sabda beliau sebagai berikut:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

“Orang yang paling cerdas ialah barangsiapa yang menghitung-hitung/evaluasi/introspeksi (‘amal-perbuatan) dirinya dan ber’amal untuk kehidupan setelah kematian. Dan orang yang paling lemah ialah barangsiapa yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan (diampuni) Allah ta’aala.” (At-Tirmidzi 8/499)

sumber eramuslim

wallahu’alam bishawab